Kiai Marsudi: NU Miliki Kontribusi Besar bagi Perdamaian Dunia

Banda Aceh, NU Online

NU memiliki kontribusi terhadap lahirnya negara Indonesia. Keberadaan NU di dunia juga mempunyai nilai strategis. Bahkan, mampu memberikan kontribusi yang sangat besar bagi terciptanya perdamaian di dunia. Oleh karenanya, kita harus berterima kasih kepada NU.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Marsudi Syuhud mengungkapkan hal itu saat memberikan pengantar dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-14 PWNU Aceh yang digelar di Hotel Grand Aceh Syariah Banda Aceh, Jumat (25/12). Kiai Marsudi mengatakan, sebelum berangkat ke Aceh terlebih dahulu dirinya dipanggil Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kiai Said menyampaikan beberapa hal dan salamnya kepada alim ulama, pengurus, dan peserta Konferwil PWNU Aceh.

Kiai Marsudi menambahkan, di dunia tidak ada organisasi keagamaan seperti di Indonesia. Ketika ada masalah, tidak ada tempat untuk menyelesaikan masalah besar, maka terjadilah perang saudara dan kekacauan.

“Di bawah inisiasi NU, kami pada tahun 2010 mengumpulkan berbagai kelompok ulama Afganistan untuk saling islah. Sngkat cerita, akhirnya NU di Afghanistan bisa dipertemukan meskipun banyak rintangan dan berhasil mendirikan NU hingga ke ranting-ranting,” tuturnya.

“Jangan sampai Aceh kalah dengan Afganistan yang kemarin sore dan bisa mendirikan pengurus ranting,” sambung Kiai Marsudi.

Ia menambahkan, para pengurus NU di semua tingkatan seharusnya mendahulukan kemaslahatan umum ketimbang kemaslahatan pribadi. “Ketua PWNU Aceh harus memikirkan kemaslahatan ammah, jangan pikirin diri sendiri dulu. Apabila memikirkan mashlahah ammah, pasti mashlahah sendiri bisa teratasi,” pesannya.

Harapan Kiai Marsudi, kepemimpinan NU ada nilai yang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Begitu juga PWNU Aceh. Apabila kepemimpinan selama ini belum sempat melakukan, bisa dilanjutkan untuk periode selanjutnya.

Kepemimpinan PWNU Aceh harus memberikan karya yang monumental sehingga karya tersebut menjadi sejarah bagi generasi NU nantinya. “Harus bisa dibacakan dan diceritakan kepada anak-anak dan cucu kita nanti, seperti karya-karya pimpinan NU terdahulu,” ujarnya.

Dia menyatakan, PBNU tidak menginginkan para pengurus NU yang hanya nebeng nama saja di NU. Namun, tidak ada sumbangsih bagi kebesaran agama dan negara secara ikhlas.

“Kalau cuma nyantol-nyantol nama saja jadi pengurus NU itu adalah zhalimun linafsih atau menzhalimi dirinya sendiri.

Harusnya berani menjadi pengurus harus berani berkarya dan meninggalkan warisan,” tuturnya.

Kontributor: Helmi Abu Bakar

Editor: Musthofa Asrori

Scroll to Top