Sebagai Cendekiawan, Gus Dur Integrasikan Rasionalitas dan Spiritualitas

Jakarta, NU Online

Sebagai cendekiawan, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menggunakan kecenderungan spiritualitas. Artinya, seorang cendekiawan tidak hanya bertumpu pada kemampuan rasionalitas saja.

Gus Dur mampu mengintegrasikan keduanya dalam melihat kehidupan. Hal tersebut diungkapkan Budayawan Nahdlatul Ulama Zastrouw Al-Ngatawi dalam peringatan Haul ke-11 Gus Dur yang diselenggarakan Pengurus Cabang Istimewa NU Sudan dan Jerman. Acara ini digelar secara virtual dan disiarkan langsung 164 Channel, pada Sabtu (26/12) sore.

“Gus Dur punya kepekaan spiritualitas dalam melihat sesuatu. Ini yang menjadi pembeda Gus Dur dengan cendekiawan pada umumnya, karena Gus Dur mampu mengintegrasikan kedua hal ini (rasionalitas dan spiritualitas). Kecendekiawanan Gus Dur menjadi lebih lapang dan komprehensif,” ungkap Zastrouw.

Karena itulah, Pakar Sosiologi dari Universitas Indonesia itu menyebut Gus Dur sebagai cendekiawan integratif. Sebab Gus Dur mampu menggabungkan antara rasionalitas dan spiritualitas dalam mengonstruksi suatu kebudayaan, melalui pemikirannya.

Salah satu hal yang bisa dilihat dari sikap kecendekiawanan yang integratif itu, lantaran Gus  Dur mampu membangun hubungan yang baik antara modernitas dan tradisionalitas. Menurut Zastrouw, selama ini hubungan keduanya itu selalu bersifat konfrontatif, diametral, atau terpisah. Hubungan modernitas dan tradisionalitas selama ini ibarat minyak dan air.

Bahkan modernitas menempati posisi superior sementara tradisionalitas sebatas inferior. Dengan demikian, banyak hal-hal dari tradisionalitas yang digerus, dihilangkan, dan dihancurkan oleh modernitas.

“Banyak orang yang lari dari sistem dan nilai tradisionalitas karena dipandang secara peyoratif (rendah) oleh modernitas. Bagi Gus Dur, keduanya tidak bisa dikonfrontasikan. Tetapi harus didudukkan secara seimbang kemudian dibentuk hubungan yang komplementer (saling terkait),” jelas Asisten Pribadi Gus Dur pada periode 1989-1998 ini.

“Hal ini ditunjukkan oleh Gus Dur. Misalnya ketika Gus Dur memahami ilmu dan teori sosial, mulai dari yang klasik hingga modern, tapi ujung-ujungnya Gus Dur tetap lari ke kuburan, ziarah kubur dan istighotsah,” lanjut Zastrouw.

Dengan berlaku seperti itu, Gus Dur sebenarnya ingin menunjukkan bahwa ilmu-ilmu yang bersifat rasional, positivistik, dan empiris hanya separuh saja. Sementara sebagian yang lain dari ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sifatnya spiritualitas.

“Secara guyon Gus Dur kalau ditanya ngapain ziarah kubur, dia akan menjawab karena orang mati tidak punya kepentingan. Tapi di balik itu, Gus Dur sebenarnya ingin mengatakan bahwa yang separuh dari konstruksi pengetahuan itu ada pada spiritualitas,” ujar Zastrouw.

Di kesempatan yang lain, dijelaskan Zastrouw, Gus Dur pernah menafsirkan pernyataan seorang Pujangga Tanah Jawa Rangga Warsita yang mengutip ungkapan Jayabaya. Dikatakan bahwa ing titimangsane wong jawa kari separo (pada saatnya nanti orang Jawa tinggal separuh. “Saat itu Gus Dur menafsirkan bahwa Jawa di sini bukan dalam pengertian etnik geografis, tapi Jawa sebagai cultural identity (identitas kultural). Sebuah cara pandang dunia yang direpresentasikan dengan menggabungkan antara rasionalitas dan spiritualitas,” ungkap Zastrouw. Sementara kalimat kari separo atau tinggal separuh, menurut Gus Dur, bukan dalam pengertian kuantitatif jumlahnya.

Namun suatu peradaban yang tinggal hanya mengandalkan rasionalitas saja. Sedangkan nilai spiritualitasnya dihilangkan. “Waktu itu Gus Dur menjelaskan kepada saya seperti itu. Seperti mulai tidak mau wiridan, riyadhah, ziarah kubur, dan enggan melakukan laku batiniah. Ini adalah fenomena yang terjadi dan bisa dijelaskan Gus Dur melalui tafsir Rangga Warsita yang merujuk kepada Jayabaya,” terang Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU pada 2004-2009 ini.

“Jadi Gus Dur menjelaskan ketika menjelaskan kalimat wong Jawa kari separo itu pengertiannya dunia peradaban Jawa yang seharusnya mengintegrasikan keduanya, kini hanya menggunakan rasionalitas saja,” ungkapnya. Namun hal itu berbeda dengan Gus Dur.

Sebab Presiden keempat Republik Indonesia itu, sebagai cendekiawan, telah berhasil memadu-padankan antara rasionalitas dan spiritualitas. Dengan kata lain, kata Zastrowu, Gus Dur adalah cendekiawan integratif. Sekadar informasi, webinar bertema Mendaras Gus Dur: Antara Cendekia dan Canda Sang Guru Bangsa ini juga mendatangkan putri sulung Gus Dur Alissa Wahid.

Hadir pula Ketua PCINU Maroko Gus Ali Dahrie dan Ketua PCINU Yaman yang membaca tahlil beserta doa.  Rais Syuriyah PCINU Sudan KH Dzakwanul Faqih dan KH Syaeful Fatah pun turut hadir secara virtual, memberikan sambutan untuk mengantar diskusi yang dipandu oleh Wakil Ketua Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI) Zacky Khairul Umam.

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad

Scroll to Top